SELAMAT DATANG DI PUSKOPDIT FLORES MANDIRI

 
 
                 
 

Memimpin di Saat Krisis, Membangun Tanpa Merusak

Oleh Drs. Theofilus Woghe

Pengalaman perjalanan hidup saya mengabdi pada sebuah lembaga Puskopdit BENN yang sekarang Flores Mandiri rupanya sangat tepat dengan apa yang digambarkan oleh Gede Prama bahwa :”Jalannya hidup dibingkai seperti lukisan-lukisan bergerak, kemudian diklasifikasikan, dikerangkakan dan disimpulkan, ada semacam lompatan-lompatan dalam hidup. Setiap lompatan adalah pilihan dan setiap pilihan adalah resiko. Lompatan kehidupan adalah pilihan saya sendiri. Ke mana saya berbelok adalah resiko. Dari yang besar sampai yang kecil. Dan setiap menoleh ke jalan-jalan di belakang, hampir setiap belokan isinya adalah monumen rasa syukur. Melalui pengalaman kehidupan, saya berhenti sejenak untuk berefleksi. Saya bertanya, apa kendaraan yang saya gunakan, dalam mendidik diri untuk mengambil hikmah, yakni berefleksi untuk menimba pelajaran apa yang dapat saya peroleh serta berhenti hidup menghakimi. Berhenti untuk mengatakan, ini benar, itu salah. Berhenti untuk berujar, saya hebat, orang lain goblok.

 

Memperbanyak Pengalaman Demokrasi, Meningkatkan Kecerdasan Bela Rasa

Oleh Dr. Paul Budi Kleden, SVD

Koperasi, dalam bentuknya sebagai Koperasi Simpan Pinjam, tampaknya sedang mengubah wajah perekonomian di Indonesia, tidak terkecuali di NTT. Warga yang miskin, yang umumnya tidak mudah mempercayakan orang lain mengelola uangnya yang serba sedikit, tampaknya tidak canggung menyerahkan uangnya untuk disimpan dalam lembaga keuangan mikro seperti CU. Memang wajah perekonomian tidak serentak berubah total, namun sudah mulai terjadi perubahan pola pikir yang mengantar kepada perubahan perilaku ekonomi. Mungkin terlampau berlebihan kalau digunakan kata revolusi untuk perubahan ini, tetapi tidak adil pula apabila orang meremehkan gerakan yang sedang terjadi. Lalu, apa kaitannya semua ini dengan filsafat?

Karl Marx, pemikir berkebangsaan Jerman yang hidup pada abad ke-19 (1818-1883), dalam tulisannya berjudul “Sebelas Tesis Tentang Feuerbach” membuat kritik yang tajam ke alamat kalangan para filsuf yang dirumuskannya sebagai tesis kesebelas. Tesis kritis tersebut berbunyi: “Para filsuf selama ini sibuk menafsir dunia secara berbeda-beda, namun, sebenarnya yang paling penting adalah mengubah dunia.”Para filsuf hanya sibuk membangun dan membongkar ide, merumuskan dan merumuskan ulang gagasan. Semuanya hanya mengatakan dengan pengertian lain hal yang sama.

 
 
 
   
  OJT, Basis Pengembangan PKS  
  Bekali Staf Kopdit Agar Menjadi Konsultan Bisnis  
     
   
  Spiritualitas Kebersamaan: Kekuatan Perubahan oleh Mikhael H Jawa  
  Koperasi Kredit dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Dr. John Dami Mukese, SVD  
  Koperasi Kredit dalam Percaturan Global oleh Drs Thefilus Wohge  
  Pentingnya Analisis SDM bagi Gerakan Koperasi Kredit oleh Kosmas Lawa Bagho  
  Pers Yang Mengabdi Publik oleh Frans Obon  
  Sepenggal Kisah di Kopdit oleh Komas Lawa Bagho  
  Mengenang Bapak Theofilus Woghe oleh Hendrikus M.D. Dolaradho  
  Orang Flores, Kopdit dan 'Res, Non Verba' oleh Oswaldus Romanus  
   
Berita
Opini
Diklat
Audit
Hotel
   
   
©Copyright Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Flores Mandiri 2015