SELAMAT DATANG DI PUSKOPDIT FLORES MANDIRI

 
 
                 
 

Spritualiatas Kebersamaan:

Kekuatan Perubahan

 

0leh Mikhael H.Jawa*

Description: C:\Documents and Settings\Administrator\Desktop\DSC00831.JPGManusia pada hakekatnya adalah makluk sosial. Manusia saling mengandaikan dan membutuhkan dalam kehidupan. Dalam perspektif ini , p embangun an kehidupan ekonomi yang bertujuan untuk m eningkatan kesejahteraan bersama di perlu kan adanya kerja sama dan saling tolong menolong dalam semangat kebersamaan .

Kenyataan yang tak terelakan bahwa globalisasi dan era pasar bebas kian merebak dengan melakukan ekspansi bisnis lintas batas . Kompetisi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan bisnis. Menyikapi dinamika perkembangan konstelasi dunia bisnis dewasa ini seyogyanya mendorong gerakan koperasi kredit untuk untuk lebih bersatu dan membenah diri dalam nuansa kebersamaan sehingga dapat memantapkan wawasan masa depan dengan penuh optimism e melalui berbagai gebrakan perubahan.

Eksistensi Koperasi Kredit

Koperasi kredit (kopdit) yang lazim dikenal credit union merupakan kumpulan orang yang saling percaya pada semangat dan perilaku bersama yang bertumpu pada jati diri koperasi. Keberadaan kop dit pada dasarn ya dimotori oleh adanya kesadaran kolektif dan kemandirian untuk memperbaiki kondisi hidup yang bermartabat dan berkeadilan. Masyarakat sadar akan kebutuhannya untuk memperbaiki diri secara mandiri dalam kebersamaan merupakan prasyarat dan motivasi utama untuk mendirikan kopdit dengan filosofi ‘mengandalkan kemampuan sendiri kita belum punya arti, tetapi rela bergabung dalam kelompok kita punya arti ’ .

Koperasi pada dasarnya merupakan lembaga ekonomi yang muncul sebagai akibat dari adanya kebutuhan anggota untuk bersatu. Koperasi merupakan lembaga penyatu ekonomi rakyat sehingga ia berperan untuk mempersatukan dan memperkuat posisi tawar menawar secara bersama (collective bargaining). Di sini nampak terkandung dua hal penting yaitu pertama, para anggota koperasi sadar bahwa kekuatan masing-masing amat lemah dan kecil untuk menghadapi kekuatan lain. Kedua, masing-masing anggota menyadari bahwa didalam dirinya yang ‘lemah’ itu sebenarnya terkandung potensi kekuatan yang apabila dikembangkan akan menumbuhkan kemandirian (self-reliance). Kedua hal inilah yang pada akhirnya mendorong kelompok orang miskin dan lemah bersepakat untuk berkoperasi.

Inspirasi pembentukan koperasi umumnya muncul karena suatu defensive reflex (gerakan otomatis untuk membela diri) dari suatu kelompok masyarakat atas berbagai tekanan hidup baik berupa dominasi sosial maupun ekploitasi ekonomi sehingga menimbulkan rasa tidak aman, tidak adil. Sebagai misal, i de pembentukan koperasi di Inggris sebagai akibat dari revolusi industri dan Perancis merupakan konsekuensi dari revolusi sosial.

Sementara itu pembentukan koperasi model koperasi Raiffeisen diilhami kemiskinan yang diderita para petani di desa-desa Rhineland, Jerman. Keterpurukan hidup para petani Jerman akibat musim dingin berkepanjangan mendorong Friedrich W.Raiffeisen, Walikota Flammersfield menyerukan kepada hartawan dan dermawan untuk mengumpulkan sumbangan dalam bentuk roti dan uang guna menolong orang miskin. Bantuan orang-orang kaya tidak bersifat permanen sehingga tidak lama berselang masyarakat kembali kepada kondisi sulit seperti sebelumnya. Kegagalan ini membuat Raiffeisen mengambil sikap bahwa kesulitan orang miskin hanya bisa diatasi oleh orang miskin itu sendiri . Obsesi ini mendorong Raiffaissen untuk menggalakan kegiatan simpan pinjam di kalangan petani mulai dengan apa yang ada pada mereka untuk menolong diri sendiri. Ternyata masyarakat bisa keluar dari lingkaran kesulitan dengan memobilisasi kemampuan yang dimiliki. Gerakan koperasi kredit model Raiff ei sen kini berkembang di berbagai negara termasuk Indonesia .

C ikal bakal munculnya koperasi kredit di wilayah Flores pada tahun 1970-an juga dilatari oleh keprihatinan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Kop erasi kredit lahir dari kondisi sulit yang dihadapi masyarakat antara lain : kesulitan pendidikan anak, ketiadaan modal usaha, terlilit hutang oleh rentenir dan sistem ijon. Kesadaran kolektif atas problem atika hidup ini menjadi entry point pendirian koperasi ‘dari bawah’. Keberadaan koperasi dengan cara ini berimplikasi pada koperasi kredit sebagai organisasi yang dimiliki oleh anggota. Rasa memiliki anggota menjadi elemen substansial bagi kopdit untuk bertahan dalam berbagai kondisi sulit karena mengandalkan loyalitas anggota untuk menghadapinya.

Kebersamaan dalam Visi

Kop erasi kredit sebagai organisasi yang senantiasa berkembang maka visi menjadi penentu arah dan daya pegang bagi anggota dan segenap fungsionaris kopdit untuk mewujudkan tujuan bersama. Pengembangan kop erasi tanpa loyalitas kepada visi akan mengalami hambatan. Prof.Dr.Roepke, pakar koperasi dari Jerman pada perayaan peringatan 25 tahun Gerakan Koperasi Kredit Indonesia mengatakan bahwa koperasi kredit yang tidak memiliki visi yang jelas, selamat jalan koperasi kredit untuk meninggal dengan sukses.

Menyikapi pernyataan tersebut dan m encegah terjadinya kepunahan dalam gejolak persaingan serta tidak mau mengalami nasib seperti binatang purba dinosaurus maka koperasi kredit mulai memformulasikan visinya. Visi yang dirumuskan itu hendaknya disosialisasikan sehingga terjadi pembatinan dalam diri segenap fungsionaris dan anggotanya.

Koperasi kredit sebagai gerakan yang tumbuh dari bawah hendaknya tetap berpegang teguh pada visi dasar yakni penghargaan terhadap martabat manusia dan apresiasi terhadap kemampuan masyarakat untuk menolong diri sendiri dalam semangat cinta dan kebersamaan. Citra k opdit yang baik sangat terkait dengan nilai-nilai universal yang berakar pada moral sehingga koperasi kredit mesti konsisten menerapkan standard moralnya. Oleh karena itu koperasi kredit telah bertarung dalam ketahanan mentalnya selama ini hendaknya tidak tergiur dalam berbagai tawaran instant yang bisa menina-bobohkan jati diri koperasi kredit.

Patut disadari bahwa koperasi kredit hanya berpeluang menjadi besar dan berkelanjutan kalau bertumpuh pada tiga arah dasar yang menjadi pilar utama: pendidikan, solidaritas dan swadaya. Pendidikan dalam gerakan koperasi kredit merupakan sarana utama dan strategis untuk membangun penyadaran dan pen citra an yang baik . Perubahan dan pertumbuhan kop erasi kredit tidak terlepas dari proses pembelajaran lintas batas baik kegiatan pelatihan yang bersifat klasikal maupun sharing pengalaman dengan pen g giat kopdit baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun di tingkat internasional.

Orang bijak mengatakan ”Pendidikan adalah penemuan secara bertahap atas ketidaktahuan kita. Semakin banyak kita ketahui, semakin kita tahu, bahwa kita tidak tahu”. Oleh karena itu p endidikan koperasi mempunyai tugas penting yakni menanamkan kesadaran akan nilai-nilai koperasi antara lain: kebersamaan, kemandirian, solidaritas, kerja sama, tanggung jawab sosial , kejujuran dan kepercayaan. P endidikan dapat menjadi kan pengurus sebagai pemimpin yang visioner dan manajemen bisa menjadi personil yang profesional serta segenap insan bisa sadar dan mampu berkopdit.

Swadaya , koperasi kredit sejak awal menggerakan bisnisnya berpijak pada modal sendiri dari simpanan anggota (internal financing) sedangkan dana dari luar hanya merupakan pelengkap (matching) terhadap sumber dana yang telah dibentuk karena ‘ modal luar ’ atau ‘ bantuan ’ sering mengkerdilkan dan mematikan semangat keswadayaan. Solidaritas memacu kepercayaan secara kolektif (collective self reliance) melalui peningkatan mutu kepercayaan diri setiap anggota dan tolong menolong dalam kesetiakawanan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Semangat solidaritas nampak pula dalam konsistensi dan komitmen membangun sistem jaringan usaha tingkat primer dan sekunder: Kopdit-Puskopdit-Inkopdit. Kesolidan dalam sistem jaringan ini telah dihidupi puluhan tahun, hendaknya tidak digerogoti abrasi egoism e.

Kebersamaan dalam berkopdit dapat juga mengubah visi diri setiap anggota dari cara berpikir instant kepada cara berpikir jauh ke depan. Insan kopdit mengupgrade mindset dan mulai membentuk karakternya untuk membangun budaya menabung, menggunakan uang dengan sistem ATM (Aman, Terarah dan Menghasilkan) sehingga bisa memerangi penyakit sosial seperti judi, mimum mabuk, boros. Koperasi kredit telah menuntun anggotanya untuk mengatur ekonomi keluarga: pengeluaran harus lebih kecil dari penghasilan, tabungan rutin sama dengan atau minimal 10% dari penghasilan rata-rata, gaya hidup yang disesuaikan dengan penghasilan; dan bukan sebaliknya.

Pembentukan karakter anggota untuk menghasilkan buah-buah unggul tersebut membutuhkan kesabaran melalui proses waktu dan ujian. Karenanya kita tetap memelihara dan mengembangkan karakter anggota yang berkualitas dalam berkopdit sehingga mampu menjadi agen perubahan: berubah mulai dari diri sendiri. Semakin kita berubah menjadikan diri sebagai anggota koperasi kredit sejati, semakin kita menjadi alat untuk mengubah hidup orang lain.

K ehadiran koperasi tidak hanya membangun ekonomi anggota an sich tetapi juga memberikan nilai tambah kultural, proses pembebasan diri dan orang lain, koperasi menjadi wadah dialog kehidupan, pembalikan asumsi antropologis, tumbuh harkat dan martabat segenap insan koperasi: anggota tidak merasa rendah diri karena terlilit hutang, sebaliknya menjadi percaya diri karena mempunyai sumber modal sendiri untuk saling melayani. Koperasi yang tumbuh dan berkembang dalam koridor jati diri koperasi berimplikasi pada kehadiran koperasi sebagai wadah proses pembebasan bagi anggota untuk dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai person atau dalam falsafah pancasila dikenal kemanusiaan yang adil dan beradab.

Dengan demikian k op erasi kredit hendaknya memiliki visi melampaui keterbatasan kita. Kita tidak hanya bekerja sebatas keterbatasan kita, tetapi kita harus berjuang untuk bekerja di luar keterbatasan kita. Kondisi keterbatasan ini yang mendorong aktivis koperasi belajar dan terus belajar. Hal ini telah ditunjukkan dalam sepak terjang pengelolaan koperasi kredit selama ini oleh para perintis, fungsionaris dan anggota koperasi . Kita mulai melakukan dari apa adanya namun kita yakin bahwa segala kekurangan akan disempurnakan dalam proses perjalanannya. Karena kita sadar bahwa dengan melakukan kesalahan adalah cara kita belajar.

Komitmen dalam Konsolidasi

Koperasi sebagai badan usaha tidak kebal terhadap kebangkrutan. Ada empat kekuatan yang selalu mengancam setiap perusahaan termasuk koperasi sebagai badan usaha yakni anggota (sebagai pemilik dan pengguna jasa), persaingan, biaya dan krisis. Koperasi yang berkualitas harus selalu berada dalam manajemen krisis, selalu siap menghadapinya jika krisis menerpa. Kita tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap krisis.

Koperasi kredit yang tetap mempertahankan status quo: merasa paling baik, paling unggul adalah tindakan bunuh diri; terjerebab dalam budaya kemapanan. Bagi koperasi, bersaing bukan siapa yang paling besar, tetapi siapa yang paling berprestasi dalam memberikan pelayanan . Sebab s atu-satunya jaminan keberlan jutan yakni kultur perusahaan yang kuat, yang intinya adalah kualitas pelayanan . K ehadiran koperasi adalah untuk manusia dan untuk pelayanan. Koperasi yang besar saat ini namun tetap i resisten terhadap perubahan maka bukannya tidak mungkin akan ditinggalkan.

Koperasi sebagai organisasi adalah penting untuk mewadahi aneka unsur yang tergabung di dalamnya. Organisasi adalah modal utama koperasi maka organisasi harus dibangun secara benar. Karena itu konsolidasi organisasi perlu dilakukan oleh gerakan koperasi untuk mengembangkan organisasi sesuai tuntutan perkembangan. Dalam proses melakukan konsolidasi kelembagaan dan usaha koperasi harus bereferensi pada jati diri koperasi. Pakar koperasi, Ibnoe Soedjono mengedap an kan tiga krisis jati diri masa lalu yakni krisis ideologi, krisis kepemimpinan dan krisis kepercayaan. Ketiga jenis krisis ini hanya bisa teratasi kalau adanya komitmen melaksanakan jati diri koperasi secara baik dan benar.

K onsolidasi dilakukan dengan kesadaran akan rasa urgensitas . Hal ini bisa terjadi kalau setiap koperasi secara tulus melihat kepentingan atau egoisme kelompok diatas kepentingan bersama. Yang menjadi kendala adalah semangat kebersamaan. Namun patut disadari bahwa semangat merupakan modal untuk melakukan pembenahan, bagaimana merubah kepentingan dan wawasan kelompok menjadi kepentingan dan wawasan bersama. K onsolidasi merupakan masalah perjuangan yang memerlukan tekad dan komitmen untuk dapat melaksanakannya. Kita perlu menghidupkan sifat gerakan di antara kalangan koperasi melalui semangat kebersamaan menuju satu pikiran, satu bahasa dan satu tindakan sehingga terbangun k e- k ita-an dalam gerakan koperasi kredit.

K ontinuitas pertumbuhan dan perkembangan gerakan koperasi kredit sedunia juga terletak pada konsistensi dan komitmen dalam sistem kerja jaringan dengan merujuk pada kode etik dan prinsip subsidiaritas. Dalam sistem kerja jaringan ini terbangun motivasi saling memperkuat, saling memberdayakan dengan spiritualitas pendidikan, swadaya dan solidaritas.

Puskopdit yang sebelumnya dikenal BK3D pernah mengalami masa suram dalam sejarah perjalanannya pada tahun 1994-2000. Pada saat itu BK3D menuai krisis yang begitu kompleks. Berbagai upaya yang dilakukan juga bagaikan mengurai benang kusut. Memang lebih mudah membangun citra tetapi lebih sulit untuk mempertahankan citra bahkan mengembalikan citra. Karena kita harus membutuhkan perjuangan yang tidak semudah membalikan telapak tangan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa adanya berbagai strategi yang dilakukan dalam konsolidasi Puskopdit untuk membangun habitus baru dalam proses pengembangan koperasi kredit demi merajut kembali serpihan puing-puing ketidak-percayaan dalam nafas kebersamaan.

Berbagai agenda perubahan yang direncanakan dalam melakukan pembenahan baik pada rana organisasi maupun usaha Puskopdit bersama koperasi kredit primer sebagai pemiliknya. Namun perubahan ini tidaklah semudah mengedipkan mata. Adanya sikap resistensi terhadap tawaran perubahan. Memang seringkali kita mengetahui hal yang baik untuk kita lakukan tetapi hal yang paling sulit adalah melakukannya .

Terlepas dari kekurangan yang ada, Puskopdit bersama koperasi kredit primer berkomitmen telah melakukan konsolidasi selama kurang lebih sepuluh tahun tahun . Nampak adanya kecendrungan pertumbuhan dan perkembangan gerakan koperasi kredit di wilayah ini yang merupakan pengejawantahan dari konsolidasi sebagai moral aksi. Capaian hasil dapat terjadi kalau adanya komitmen dalam kebersamaan dan kebersamaan dalam komitmen untuk melakukan gebrakan perubahan.

Pembangunan koperasi kredit harus melalui perubahan. Kita harus belajar mencintai perubahan. Para penggiat koperasi kredit seyogyanya perlu merencanakan perubahan dalam pengelolaan kop erasi kredit ke arah yang lebih baik . Karena k ita sering cenderung tidak merencanakan perubahan dan menghadapinya saat perubahan itu tidak terhindarkan lagi. Perubahan pasar dan perkembangan sosial ekonomi perlu mendapat perhatian serius sehingga ko perasi kredit dapat mengikuti dan mengambil peran dalam perubahan tersebut. Jika kita mengandalkan kekuatan sendiri rasanya kita tidak mampu berbuat apa-apa di tengah dunia yang semakin kompetitif. Kita akan tetap hidup tatkala kita mulai beralih dari paradigma kompetetif dan konflik kepada paradigma kebersamaan dan cinta kasih yang sarat moral. Dengan demikian kita dapat menghasilkan insan-insan kopdit yang mampu bekerja sama untuk membangun suatu kekuatan yang lebih besar demi pembangunan masyarakat yang bermartabat dan berkeadilan. Semboyan bersama kita bisa hendaknya menjadi imperatif moral bagi segenap insan kopdit dalam melakukan berbagai gebrakan perubahan. Dalam semangat kebersamaan, kita bisa berbuat sesuatu yang besar. Perjuangan untuk memanusiakan manusia melalui wadah koperasi kredit memang tidaklah mudah. Namun apa yang kita taburkan, diharapkan tetap terpelihara dan ditumbuhkembangkan dalam suasana kebersamaan dan kekeluargaan. Hal ini hanya mungkin terwujud kalau kita taat pada komitmen bersama. Kiranya gerakan koperasi kredit senantiasa menghidup i spiritualitas kebersamaan dalam perjuangan nya karena hidup adalah perjuangan ,vita est militia. ***

*penulis, Manajer Puskopdit Flores Mandiri.

Referensi:

Ibnoe Soejono , Membangun Koperasi Mandiri dalam Koridor Jati Diri Koperasi , Jakarta: LSP2I -ISC , 200 7

Hendrojogi, Koperasi: Azas-Azas, Teori dan Praktek, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002

Hudiyanto, Sistem Koperasi: Ideologi dan Pengelolaan, Yogyakarta: UII Press, 2002

 

 
     
     
   
  Mengenang Bapak Theofilus Woghe  
  Orang Flores, Kopdit dan 'Res, Non Verba'  
     
     
   
Berita
Opini
Diklat
Audit
Hotel
   
   
©Copyright Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Flores Mandiri 2015