SELAMAT DATANG DI PUSKOPDIT FLORES MANDIRI

 
 
                 
 

MENGENANG BAPAK THEOFILUS WOGHE

(Tokoh Pendidikan dan Pegiat Koperasi)

Oleh : Hendrikus M.D.Dolaradho

 

 

Pribadi yang Santun dan Berdedikasi Tinggi

Bapak Theofilus Woghe yang sering disapa akrab Theo, merupakan tokoh masyarakat yang berkarya di bidang Pendidikan selama lebih dari 35 Tahun. Theofilus adalah suami dari mama Maria Ebu dan memilik 4 orang anak. Pak Theo dilahirkan di lahir di Suralaja, Nagekeo, 5 Maret 1953. Saya kenal beliau sejak kelas 1 Sekolah Dasar sekitar tahun 1991. Sejak kecil saya sering melihat dan mendengar begitu banyak diskusi, baik serius ataupun diskusi ringan bersama bapak Thomas. Mereka dua menjadi dua sahabat ideologis yang mempunyai visi, misi serta rencana besar di bidang pendidikan. Pak Theo usianya lebih muda tiga tahun dari bapak Thomas ayah saya. Kala itu Sebagai seorang anak SD kelas 1 saya merasa sangat senang jika pak Theo datang ke Rumah. Senang karena beliau pasti selalu memberikan motifasi dan saran dengan bahasa yang sangat sederhana namun kaya makna. Senyum selalu ada dalam wajahnya. Bapak Thomas sering berpesan bahwa kamu harus belajar dari pak Theo. Dia Pribadi yang santun dalam tutur kata dan tindakan. Segala tindakan pasti mempunyai standar etika yang tinggi. Beliau orang baik, tegas dalam prinsip namun lunak dalam tindakan. Itulah kesan dan pesan yang disampaikan oleh bapak. Selain itu juga mempunyai dedikasi tinggi dalam tugas dan tanggungjawab yang diberikan. Beliau dipercayakan oleh Yayasan Persekolahan Umat Katolik kabupaten Ngada (YASUKDA) menjadi Kepala Sekolah SMA Regina Pacis Bajawa periode 1990-2011.

Menjadi Pendidik yang Kaya Ide dan Gagasan Berlian

Pilihan hidup menjadi guru/akademisi menjadi sebuah pilihan utama dan penyerahan diri secara total, bahwa untuk menjadi guru harus menjadi guru yang berkarakter dan memiliki gagasan yang bisa memberikan solusi untuk menjawabi kebutuhan masyarakat.Menjadi pendidik harus kaya akan gagasan dan ide. Untuk itu maka seorang pendidik harus banyak membaca buku dan membaca situasi kondisi yang ada dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Seorang pendidik yang miskin akan ide dan gagasan maka dia tidak dapat memberikan pencerahan kepada anak didik. Kalimat ini sering saya dengar ketika beliau berdiskusi dengan bapa Thomas. Saya lebih senang menjadi pendengar yang baik ketika mereka berdua berdiskusi dan kadang-kadang melontarkan beberapa pertanyaan yang menurut saya butuh penjelasan. Pak Theo berpesan bahwa dalam situasi tertentu kita harus bisa menjadi pendengar yang baik dan berbicaralah secukupnya. Semakin fokus kamu mendengar maka semakin banyak ilmu yang kamu dapat.

Dalam beberapa seminar dan diskusi tentang pendidikan pak Theo selalu dilibatkan. Beliau dilibatkan sebagai pembicara ataupun menjadi moderator. Saya senang jika beliau memimpin diskusi dengan pendekatan pola proses. Beliau kaya akan ide-ide dan gagasan brilian. Selain itu didukung dengan kemampuan Publik Speaking yang baik dan kemampuan humornya bisa mencairkan susana yang terkesan kaku. Namun dibalik itu pak Theo juga punya kemampuan khusus dalam hal mencuci otak para pendengar. Terkadang pula beliau mengeluarkan kata-kata yang sedikit keras untuk menyadarkan pendengar yang masih ragu-ragu dengan gagasan yang diberikan.

Pak Theo menguraikan, pendidikan merupakan usaha pemanusiaan manusia secara holistik dengan mentrasfer nilai-nilai berharga yang dianut oleh seseorang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, moralitas adat istiadat dan kebudayaan dan etika sosial-religius.

Menggagas Konsep “Menjadi Guru Merdeka”

Menjadi pendidik artinya kita harus bertanggungjawab dengan pilihan dengan memberikan konsep dan gagasan konkret untuk memperkaya metodelogi yang bisa digunakan untuk pengembangan pendidikan. Konsep guru merdeka menjadi salah satu konsep yang digagas beliau untuk memperkaya metode pendidikan. Dalam ayat ketiga lagu hymne guru ciptaan Sartono; /Engkau sebagai pelita dalam kegelapan//Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan//Engkau patriot pahlawan bangsa//tanpa tanda jasa/.

Namun apa jadinya jika guru terbelenggu? Apakah guru yang terbelenggu masih bisa menjadi pelita dalam kegelapan? Apakah guru yang terbelenggu masih bisa menjadi embun penyejuk dalam kehausan? Itulah pertanyaan yang mengganggu pak Theo, dan beliau mencoba memberi resep untuk memerdekakan guru.

Sejatinya pendidikan itu diarahkan untuk memerdekakan, Namun kini pendidikan dilakukan dalam situasi ketakutan. Maka dunia pendidikan menjadi dunia yang ‘pilek’, tak berani menyuarakan kemerdekaan. Mengapa? Karena guru terbelenggu. Dua sebab yang menjadikan guru terbelenggu adalah kungkungan tradisi dan sistim pendidikan. Pak Theo Woghe memerinci ciri-ciri guru yang merdeka, yaitu:

1. Guru yang bebas dari: (1) rasa takut, (2) ingin menjadi seperti, (3)ketergantungan kepada pihak lain.

2. Guru yang bebas untuk: (1) mencari kedalaman diri, (2) mengambil bukan hanya kesimpulan tetapi kedalaman dan kearifan, (3) mengembangkan kedalaman tugasnya, (4) mengembangkan profesinya, (5) mengemukakan pendapat dan berorganisasi, (6) menjaga harga diri, dan (7) memberdayakan.

Sayangnya, belenggu tradisi dan sistim pendidikan membuat guru terbelenggu. Guru menjadi tidak merdeka. Guru ketakutan untuk dinilai, untuk selalu dianggap berhasil, untuk patuh kepada atasannya. Bahwa Guru Merdeka yaitu Guru yang Memahami Kedalaman Dimensi Pendidikan. Resep-resep yang diusulkan oleh Woghe dalam buku ini sangat inspiratif dan sangat membantu para guru untuk keluar dari belenggu.

Pendidikan Nilai Sebagai Garda untuk Mencegah Dekadensi Moral

Awal mei 2015 ketika pulang ke Bajawa dan saat sedang merapikan buku-buku dalam perpustakaan Pribadi bapak Thomas saya melihat ada beberapa edisi buku pendidikan nilai yang digagas oleh pak Theo bersama Tokoh-tokoh pemerhati pendidikan dan Komisi Pendidikan keuskupan Agung Ende. Saya sendiri membaca Cuma beberapa halaman dan langsung berdiskusi dengan bapa Thomas. Bapa Thomas menyampaikan bahwa isi dari buku ini merupakan gagasan bersama para tokoh-tokoh yang berkiprah dalam dunia pendidikan yang mana salah satunya adalah pak Theo. Inti dari buku ini adalah sebuah gerakan bersama untuk menyelamat generasi muda yang kini terhegemoni oleh arus globalisasi dan kehilangan arah orientasi hidup. Pendidikan nilai menjadi materi yang harus dimiliki oleh setiap generasi anak didik agar mereka sadar akan tujuan hidup dan mampu mengisi hidup ini dengan nilai-nilai luhur yang membuat martabat hidupnya menjadi lebih bernilai. Tantangan terbesar generasi muda saat ini adalah dekadensi moral yang mengarah pada penurunan kualitas hidup dan menyebabkan generasi muda cenderung tidak memiliki karakter yang kuat, pribadi yang tangguh serta mental instan.

Menjadi Pegiat Koperasi Kredit dengan Gagasan “Rupiah Emas”

Selain aktif di lembaga pendidikan sebagai seorang Guru, Pak Theo menjadi penggiat gerakan koperasi kredit. Hal ini ditandai dengan beliau menjadi pengurus koperasi baik di tingkat Lokal maupun di tingkat nasional. Jabatan tertinggi yang perna dilakoni adalah Wakil Ketua Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) Jakarta.

Koperasi Sebagai lembaga keuangan Non Bank dengan sumber dana dari anggota, koperasi kredit mesti mengambil langkah standarisasi pengelolaan keuangan dan menciptakan alat kontrol keuangan. Menyingkapi kegelisaan akan terwujudnya sebuah koperasi yang sehat maka pak Theo membuat gagasan dengan membuat Buku. buku “Rupiah Emas” judulnya. Buku ini merupakan alat untuk mendeteksi kinerja manajemen teristimewa kredit macet. “Bukan untuk menyelesaikan kredit macet. Bahwa Dengan data-data yang tersedia, para manajer langsung tahu tingkat rasio kredit macet sehingga memudahkan mereka dan para pengurus mengambil tindakan.

Buku ini telah diolah berulang kali berdasarkan konsep-konsep manajemen rasional yang dipraktikan di beberapa lembaga keuangan. Prinsip dan konsep-konsep itu kemudian diolah dan diadaptasi sesuai dengan kebutuhan koperasi kredit. Selain itu juga buku ini dimaksudkan agar para manajer memiliki pedoman, data dan sumber informasi mengenai pengelolaan keuangan koperasi kredit. Pada gilirannya para pengurus dapat mengambil keputusan berdasarkan data keuangan dan informasi yang diberikan manajer.

Buku ini juga adalah sebuah alat, sebuah bahasa keuangan. Alat bantu bagi manajer untuk mengetahui data-data keuangan koperasi. Data-data ini dianalisis dan diolah untuk bahan informasi. Pada gilirannya data dan informasi ini akan memudahkan pengurus mengambil keputusan. Keputusan itu ada dua sisi: benar atau salah, baik atau buruk. Baik dan benar berkaitan dengan logika dan baik dan buruk berkaitan dengan etika

Motivator Hebat

Sebagai seorang Guru yang kaya akan gagasan dan ide brilian pak Theo mempunyai keitimewaan khusus dalam memberikan motifasi dan nasihat. Keteladanan beliau yang diperkuat dengan integritas diri yang kokoh membuat banyak orang segan dan bahkan kagum sama beliau. Pola pendekatan baik secara fisik maupun psikis membuat siapa saja yang dekat dengan pak Theo akan merasa nyaman dan bahagia. Pak Theo menyampaiakan nasihat dan motifasi dengan bahasa yang sederhana dan menggunakan contoh situasi konkrit yang sedang terjadi. Dia tidak menggunakan bahasa tingkat tinggi yang membuat orang sulit untuk mencernanya. Setiap orang yang datang untuk meminta nasihat pasti akan pulang dengan penuh sukacita. Satu hal yang saya amati sehingga beliau bisa mampu menjadi motifator yang hebat bagi orang lain yaitu karena Pak Theo mempunyai karakter yang bisa menjadi teladan. Pak Theo mempunyai kemampuan untuk mencari kawan dan mempengaruhi orang lain melalui gagasan konstruktifnya. Kemampuan komunikasi sosial yang baik membuat beliau mudah diterima di semua kalangan, mulai dari orang tua hingga anak muda.

Pastor Awam yang Berkiprah untuk Gereja dan Tanah Air

Sebagai awam katolik peran Pak Theo mempunyai peran penting dalam mengembangkan Pendidikan katolik. Hal ini dibuktikan ketika menjadi Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Ende. Banyak gagasan dan partisipasi aktif yang ia lakukan guna mengembangkan pendidikan katolik. Saya teringat dalam acara 1 abad pendidikan katolik Flores Tahun 2012 beliau memaparkan tentang Poin penting yang akan dilakukan adalah menerapkan pendidikan nilai sebagai brand sekolah katolik, pendidikan kewirausahaan serta pelatihan berbasis kelompok dan individual, pengembangan profesi guru, Jurnal Refleksi, Pembelajaran Berbasis IT .Dalam aksi grand design ini perlu dipikirkan Perda Pendidikan, Renstra Pendidikan Kolaboratif, Kebijakan Pendidikan yang melingkupi guru, kurikulum asset dan anggaran, pengembangan investasi, fokuskan konvensional dan usaha produktif. Dalam Kehidupan berbangsa dan bernegara beliau perna menjabat sebagai kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kabupaten Nagekeo. Pak Theo juga menjadi team penggagas didakan Semiloka Rancang Bangun kabupaten Nagekeo bersama Pater Philipus Tule SVD. Sebagai Awam pak Theo memberikan segala kompetensi yang ia miliki untuk kemajuan gereja. Selain ini masi begitu banyak aktifitas sosial kemasyarakatan yg tidak dapat disajkan dalam tulisan singkat ini.

Meninggal Dunia Saat HUT Kopdit Sangosay

Rencana Tuhan memang tidak bisa ditolak oleh manusia. Segala upaya berupa pengobatan secara medis telah dilakukan, Tak disangka bahwa pak Theo yang kelihatan selalu sehat dan energik dan kemudian meninggal pada tanggal 28 Mei 2015 di RS.Pelni Jakarta Barat. Banyak alumni SMA Regina Pacis Bajawa yang bersomisili di Jakarta serta kerabat beliau yang tidak mengetahui bahwa sedang sakit. Semua mengetahui bahwa beliau telah menginggal. Jenazahnya pun disemayamkan di Rumah Duka RS Cipto Mangunkusumo sebelum diberangkatkan ke Kelewae – Nagekeo – Flores NTT. Untaian doa dan ucapan dukacita diberikan kepada pak Theo. Wajahnya yang murah senyum pun sudah tak tampak. Kini terbujur kaku dibaluti Kain Sarung nagekeo. Tanggal 28 Mei merupakan tanggal Peringatan Hari ulang Tahun Koperasi Kredit Sangosai ke 32 . Pak Theo menajadi salah satu figur yang turut andil dalam mengembangkan kopdit Sangosai, hingga akhir hayatnya beliau masih aktif sebagai Penasihat Kopdit Sangosai. Sangosai terdiri dari dua kata dalam bahasa daerah Bajawa yaitu : “ SANGO ” dan “ SAI ”. Arti harafiah kata Sango yaitu “Semoga semua” yang merupakan gambaran suatu harapan atau cita - cita yang harus diperjuangkan sedangkan Sai artinya “sampai ke tujuan atau berhasil mencapai tujuan”. Kedua kata ini dipadu menjadi satu kata SANGOSAI yang dapat diartikan: Berjuang sampai semua cita–cita tercapai atau berjuang sampai semua orang berhasil mencapai tujuan yaitu hidup yang sejahtera.

Selamat Jalan Pak Theofilus Woghe, Engkau telah “SANGOSAI” dalam menjalani hidup ini. Setiap Hari Ulang Tahun Kopdit Sangosai engkau pasti akan selalu dikenang.

Selamat memasuki kehidupan baru. Semoga engkau menjadi pendoa bagi kami. Semoga Keluarga Yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.

 
     
     
   
  Orang Flores, Kopdit dan 'Res, Non Verba'  
     
     
   
Berita
Opini
Diklat
Audit
Hotel
   
   
©Copyright Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Flores Mandiri 2015